Beribadah puasa tentu ingin dirasakan oleh semua orang tanpa terkecuali. Begitupun dengan ibu hamil. Mari simak disini agar ibu menyusui tetap lancar beribadah tanpa rasa khawatir karena dehidrasi.
Bulan Ramadan adalah momen istimewa bagi seluruh umat muslim di dunia. Termasuk para ibu menyusui, yang ingin merasakan dan menjalani ibadah puasa. Namun, kenyataannya menjalani ibadah puasa saat sedang menyusui bukanlah sesuatu yang mudah.
Bagaimana tidak, tubuh tetap harus memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup agar bayi tetap mendapatkan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, pentingnya bagi ibu menyusui untuk memahami menjaga kesehatan selama berpuasa, terutama pada hal kebutuhan cairan.
Salah satu tantangan yang cukup besar selama ibu menyusui adalah resiko dehidrasi. Dehidrasi sendiri adalah di mana tubuh mengalami kekurangan cairan dan menyebabkan tubuh terasa lemas. Hal ini, tentu cukup mengganggu bagi sang ibu dan bayi.
Baca Juga : Panduan Puasa Ramadan Aman untuk Ibu Menyusui!
Secara umum, ibu menyusui memerlukan sekitar 2,5 sampai dengan 3 liter air per hari. Hal ini setara dengan 10-12 gelas air. Jumlah ini mencakup air minum serta cairan dari makanan seperti sup, buah-buahan, sampai dengan sayuran dengan kadar air tinggi.
Saat berpuasa, ibu menyusui perlu mengatur cara untuk konsumsi cairan agar tetap terhidrasi dengan cukup dan baik. Salah satunya adalah menerapkan pola minum 2-4-2, yakni :
Selain memperhatikan jumlah air yang masuk ke dalam tubuh, sang ibu juga perlu mengamati tanda-tanda dehidrasi mulai dari rasa haus yang berlebihan, pusing, bibir kering, atau warna urine yang berubah menjadi kuning pekat.
Jika mengalami gejala ini, ada baiknya tingkatkan konsumsi cairan atau mempertimbangkan untuk berbuka demi kesehatan ibu dan bayi.

(Memenuhi cairan saat berpuasa sangat dibutuhkan oleh ibu menyusui, sumber : canva)
Tidak hanya menerapkan pola minum, berikut ini adalah beberapa cara agar tubuh mendapatkan cairan yang cukup selama menjalani ibadah puasa :
Pilih buah dan sayur yang memiliki kadar air tinggi, seperti semangka, timun, tomat, dan bayam. Sup atau kaldu juga bisa membantu menjaga hidrasi tubuh.
Minuman berkafein seperti kopi, teh, dan soda bersifat diuretik, yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil dan mempercepat kehilangan cairan tubuh. Sebaiknya, pilih air putih, infused water, atau jus buah tanpa gula tambahan.
Jika urin berwarna kuning pekat atau cenderung gelap, itu menandakan tubuh kekurangan cairan. Sebaliknya, urin berwarna kuning muda atau bening menunjukkan bahwa tubuh terhidrasi dengan baik.
Jika ibu merasa sangat lemas, pusing, atau produksi ASI menurun drastis, sebaiknya pertimbangkan untuk berbuka. Kesehatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama selama menjalani puasa.
Baca Juga : Menu Sahur & Berbuka Ibu Menyusui, Wajib Coba!
Ibu menyusui memang sedikit rentan mengalami dehidrasi selama berpuasa. Hal inilah yang membuat sang ibu perlu membutuhkan banyak cairan agar kesehatan terjaga dan produksi ASI lebih terjaga kualitasnya. Berikut ini adalah sebuah tanda-tanda yang bisa dijadikan perhatian jika ibu mengalami dehidrasi :
Jika ibu merasa sangat haus meskipun baru saja minum, ini bisa menjadi tanda awal dehidrasi. Tubuh memberi sinyal bahwa kadar cairan dalam tubuh sudah mulai berkurang.
Dehidrasi membuat produksi air liur berkurang, sehingga mulut terasa kering dan bibir pecah-pecah. Ini bisa membuat ibu merasa tidak nyaman saat berbicara atau makan.
Warna urin bisa menjadi indikator penting tingkat hidrasi tubuh. Jika urin berwarna kuning tua atau lebih pekat dari biasanya, itu berarti tubuh kekurangan cairan. Selain itu, jika frekuensi buang air kecil berkurang drastis, ibu perlu segera meningkatkan asupan cairan.
Kekurangan cairan bisa menyebabkan otak bekerja lebih lambat, yang mengakibatkan sakit kepala, sulit berkonsentrasi, atau merasa linglung.
Jika ibu merasa ASI yang dikeluarkan lebih sedikit dari biasanya, bisa jadi tubuh kekurangan cairan. ASI terdiri dari sekitar 87% air, sehingga hidrasi yang cukup sangat penting untuk menjaga produksi ASI tetap optimal.
Puasa bagi ibu menyusui merupakan pilihan yang dapat dilakukan dengan persiapan yang matang, terutama dalam menjaga kecukupan cairan dalam tubuh. Ibu menyusui memerlukan sekitar 2,5 liter sampai 3 liter per harinya.
Selain menjaga asupan cairan, ibu menyusui juga mempertimbangkan apabila tubuh sudah mengalami dehidrasi yang berkepanjangan. Dengan persiapan yang matang, ibu menyusui tetap bisa menjalani ibadah puasa dengan nyaman tanpa mengorbankan kesehatan. (FAS)