Bagi bayi baru lahir, waktu tidur yang cukup merupakan kebutuhan dasar, sama seperti ASI. Maka itu, Papsi dan Mamsi perlu memastikan waktu tidur bayi terpenuhi.
Menurut the National Sleep Foundation, bayi baru lahir perlu tidur antara 14–17 jam dalam sehari. Sebagian bayi bahkan bisa bisa tidur hingga 19 jam per hari. Kebutuhan tidur tersebut perlu dipenuhi karena dibutuhkan untuk mendukung perkembangan otak, fisik, dan otot bayi.
Berikut pedoman umum waktu tidur bayi hingga 5 tahun pertama kehidupannya:
| Usia 0-3 bulan | 14–17 jam per hari |
| Usia 4-11 bulan | 12–15 jam per hari |
| Usia 1-2 tahun | 11–14 jam per hari |
| Usia 3-5 tahun | 10–13 jam per hari |

Selain memastikan si Kecil mendapat waktu tidur yang cukup sesuai dengan usianya, Mamsi juga perlu memerhatikan kualitas tidur bayi.
Tidur yang berkualitas akan memberikan manfaat yang optimal bagi kesehatan mental maupun fisik si Kecil. Para ahli mengatakan, bayi yang tidur nyenyak pada malam hari akan ceria dan tidak mudah rewel pada siang hari.
Bila waktu tidur bayi tercukupi, suasana hatinya akan lebih baik. Salah satu akibatnya, ia memiliki rasa ingin tahu dan keinginan bermain yang besar. Mamsi pun dapat lebih mudah mengajaknya bepergian atau bertemu orang lain.
Berikut berbagai manfaat yang akan dirasakan bayi bila waktu tidurnya terpenuhi dengan baik:
Menurut para ahli, hormon pertumbuhan pada bayi dilepaskan secara maksimal saat bayi tidur. Hormon pertumbuhan bertugas merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan serta mengatur metabolisme tubuh. Itu sebabnya, bayi menghabiskan lebih dari 50% waktunya untuk tidur agar pertumbuhannya berjalan optimal.
Saat manusia tidur, organ-organ tubuh bekerja memperbarui sel-sel yang rusak akibat pengaruh lingkungan. Proses perbaikan dan pembaruan sel pada bayi berlangsung lebih cepat saat ia tidur. Bila kualitas tidur bayi baik, maka proses pembaruan sel dapat berjalan lancar.
Ya, kebutuhan tidur bayi yang tercukupi dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuhnya. Alasannya, selama tidur, tubuh memproduksi protein sitokin yang diperlukan untuk melawan infeksi, penyakit, dan stres.
Bila si Kecil kurang tidur, maka sitokin yang diproduksi tubuhnya pun lebih sedikit. Ini alasannya, bayi yang kurang tidur cenderung lebih mudah sakit karena virus atau bakteri.
Semakin banyak penelitian yang memperlihatkan hubungan antara kurangnya waktu tidur bayi dengan risiko kelebihan berat badan saat ia memasuki usia kanak-kanak. Risiko ini lebih besar pada bayi yang terbiasa menyusu hingga tertidur.
Alasannya, anak tidak bisa membedakan antara lapar dan mengantuk. Maka, saat gelisah karena kurang tidur, ia menganggap penyebabnya adalah lapar. Bila hal ini dibiarkan, anak bisa menjadi obesitas.

Selain memastikan si Kecil mendapat waktu tidur yang cukup, Mamsi dan Papsi juga harus memerhatikan kualitas tidur bayi. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar si Kecil mendapatkan tidur yang berkualitas adalah dengan memberikan ASI secara cukup.
Berikut sejumlah alasan pentingnya ASI bagi kualitas tidur bayi:
Pada usia-usia tertentu (2 minggu, 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan), bayi akan mengalami lonjakan pertumbuhan atau growth spurt. Pada masa-masa tersebut, bayi cenderung lebih mudah lapar sehingga minta lebih sering menyusu.
Selama mengalami lonjakan pertumbuhan, bayi dapat minta menyusu setiap 30–60 sekali dengan durasi yang lebih lama dari biasanya. Untuk mendukung proses ini, Mamsi perlu selalu sedia memberikan ASI kepada bayi. Bila kebutuhan ASI-nya terpenuhi, bayi dapat terus tidur dengan nyenyak.
Menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal New Scientist, komposisi ASI berubah-ubah. Bila Mamsi menyusui pada malam hari, misalnya, ASI mengandung lebih banyak nukleotida, yaitu senyawa organik yang berhubungan dengan rasa kantuk. Ini sebabnya, setelah menyusu pada malam hari, bayi lebih mudah terlelap.
ASI yang diproduksi pada malam hari mengandung triptofan, yaitu asam amino esensial yang penting untuk mendukung pertumbuhan bayi. Triptofan juga bertugas membantu produksi hormon serotonin yang akan memberikan rasa nyaman dan kualitas tidur yang baik.
Bila bayi mendapat triptofan yang cukup, maka mood-nya selalu bagus dan emosinya lebih stabil. Selain itu, bayi juga tidak mudah rewel, dapat tumbuh dengan optimal, dan dapat tidur dengan nyenyak.
Komposisi ASI disebut lebih baik bagi pencernaan bayi sehingga membuat bayi mudah terlelap setelah menyusu.
Dalam ASI disebut terdapat lebih banyak kandungan whey daripada protein sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh bayi. Komposisi tersebut juga menghindarkan bayi dari potensi tambahan gas atau refluks yang bisa mengganggu tidurnya.
Selain faktor ASI, aktivitas menyusui juga dapat membantu bayi terlelap. Seorang konsultan laktasi di Ottawa mengatakan, bayi mudah tertidur saat menyusu karena merasa sangat nyaman di dekapan ibunya. Kombinasi kedua hal itulah yang dapat membuat bayi dapat memiliki tidur yang berkualitas.
Sudah tak perlu diragukan ya Mam, bagaimana manfaat ASI berpengaruh pada kualitas tidur si Kecil serta berperan besar pada proses tumbuh kembang si Kecil. Ketahui posisi menyusui yang tepat dan nyaman bagi Mamsi dan si Kecil agar selalu tercipta suasana yang nyaman selama proses menyusui.